Tidore- Langkah cepat Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan, dalam mengukur kualitas udara di Kota Tidore Kepulauan, patut diacungi jempol.
Betapa tidak, pasca diselimuti asap tebal tiga hari terakhir ini, Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan telah memiliki data terkait kualitas udara di setiap puskesmas.
Kerja cepat dari setiap Puskesmas ini, tidak terlepas dari perhatian serius Kepala Dinas Kesehatan Kota Tidore, Saiful Salim, dalam memitigasi dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Tidore Kepulauan, kualitas udara per 13 Oktober 2026, dilakukan pengukuran pada 8 Puskesmas, dengan titik yang berbeda.
Untuk Puskesmas Rum Balibunga, Kecamatan Tidore Utara, dilakukan pengukuran udara pada wilayah UPT Puskesmas Rum Balibunga, SMP Negeri 7 Tidore Kepulauan, dan Pelabuhan Rum. Di lokasi ini, Pelabuhan Rum masuk dalam kategori udara tidak sehat, sementara Lokasi Puskesmas Rum Balibunga dan SMP Negeri 7 masuk dalam kategori udara sangat tidak sehat.
Untuk Puskesmas Ome, dilakukan pengukuran udara pada Puskesmas Ome, MAN 2 Tidore Kepulauan dan Masjid Al Furqan Kelurahan Ome, tiga lokasi ini memiliki kualitas udara tidak sehat.
Sementara pengukuran udara di UPT Puskesmas Tomalou, Kecamatan Tidore Selatan, MAN 1 Tidore dan SPN Polda Malut, juga memiliki kualitas udara yang tidak sehat.
Selanjutnya di Kecamatan Tidore, pengukuran udara dilakukan pada UPT Puskesmas Soasio, Pasar Gosalaha, dan Pelabuhan Sarimalaha masuk kategori sedang, namun untuk wilayah Gurabunga dan Lapangan Taman Siswa Kelurahanp Indonesians masuk dalam kategori udara tidak sehat.
Di Kecamatan Oba Utara, lokasi pengukuran dilakukan pada UPT Puskesmas Galala, Pelabuhan Speed Boat Sofifi, SDN MIS Balbar, dan Jalan Raya KM 40 Sofifi. Semua lokasi ini memiliki hasil udara tidak sehat.
Selanjutnya pada Kecamatan Oba Tengah, lokasi pengukuran udara dilakukan pada UPT Puskesmas Akelamo, SMP Negeri 8 Tidore Kepulauan, SDN Akelamo, dan Pelabuhan dan Terminal Loleo. Dilokasi ini, semuanya masuk dalam kategori udara tidak sehat.
Pada Kecamatan Oba, lokasi pengukuran dilakukan di UPT Puskesmas Talagamori, PelabuhanU Gita, SMP Negeri 13 Kota Tidore Kepulauan, Pasar Tului dan Pustu trans, semuanya juga memiliki kualitas udara yang tidak sehat.
Untuk Kecamatan Oba Selatan, terdapat dua lokasi yang diukur kualitas udaranya yakni UPT Puskesmas Lifofa dan SMA Negeri 7 Tikep, kedua lokasi ini juga memiliki kualitas udara tidak sehat.
Menyikapi hal tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tidore, Saiful Salim, telah menginstruksikan semua Puskesmas untuk menyiapkan logistik obat dan oksigen, sehingga saat ini semua Puskesmas telah menyediakan obat dan oksigen untuk melayani Masyarakat yang terpapa Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat dari dampak udara yang tidak sehat.
“Kami sudah siaga apabila ada Masyarakat yang sakit, akibat dampak dari udara yang tidak sehat,” ujarnya, Rabu, (14/10/26).
Selain menginstruksikan setiap puskesmas untuk siaga, Saiful juga telah memastikan empat langkah mitigasi yang dilakukan oleh masing-masing Puskesmas, Pertama, menyiapkan masker untuk dibagikan kepada masyarakat.
Kedua, meningkatkan promosi kesehatan dan sosialisasi mengenai dampak Karhutla terhadap kesehatan serta langkah-langkah pencegahannya. Ketiga, petugas kesehatan lingkungan di masing-masing puskesmas diminta melakukan pengujian kualitas udara. Dan keempat, petugas surveilans Puskesmas diinstruksikan memantau tren kasus ISPA setiap hari. Empat langkah ini, kata Saiful telah dijalankan dengan baik oleh semua Puskesmas yang berada di Wilayah Kota Tidore.
“Masalah kualitas udara ini, kami juga memberikan edukasi secara langsung kepada masyarakat di masing-masing puskesmas maupun melalui media sosial,” tambah Ipul sapaan akrab Saiful Salim.
Pria jebolan Magister Universitas Indonesia ini melanjutkan, selain pengukuran udara yang dilakukan pada setiap Puskesmas, pengukuran udara juga dilakukan di Kantor Wali Kota Tidore Kepulauan, Dinas Kesehatan dan RSD Tidore Kepulauan dengan menggunakan alat Sankit Mini Particle Counter oleh UPT Puskesmas Soasio, tertanggal 14 Oktober 2026.
Hasil dari pengukuran tersebut, halaman kantor Wali Kota masih dalam kategori sedang, namun di Ruang Tunggu kantor Wali Kota kualitas udaranya sudah tidak sehat. Sementara di Dinas Kesehatan halamannya masih kategori sedang, namun di ruang tunggu, kualitas udaranya tidak sehat.
Di RSD Tidore, Halaman Parkiran, Ruang Anak dan Halaman luar ruangan, kualitas udara sudah tidak sehat, namun di ruang tunggu poli umum, udaranya masih masuk dalam kategori sehat.
“Hasil dari pengukuran kualitas udara khususnya di Kantor Wali Kota ini, nantinya menjadi dasar bagi Pemerintah Kota Tidore jika diperlukan bekerja dari rumah,” tandasnya.
Sekedar diketahui, untuk di Maluku Utara, Kota Tidore Kepulauan merupakan salah satu wilayah yang paling tercepat memiliki data kualitas udara akibat dampak karhutla.





Tinggalkan Balasan