Tidore – Kota Tidore Kepulauan menjadi daerah pertama di Maluku Utara yang mengimplementasikan program edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah bagi pelajar tingkat SMP yang di lakukan oleh Bank Indonesia (BI) Maluku Utara.
Kegiatan Sosialisasi Integrasi Bahan Ajar CBP Rupiah tersebut secara resmi dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kota Tidore Kepulauan, Jamil Hadi.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh kepala sekolah dan guru SMP se-Kota Tidore Kepulauan. Kamis (16/4/2026).
Jamil Hadi menegaskan bahwa pemahaman tentang rupiah perlu ditanamkan sejak dini kepada peserta didik. Menurutnya, rupiah tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi, tetapi juga merupakan simbol persatuan dan kedaulatan bangsa.
“Bangga rupiah berarti memahami bahwa rupiah adalah alat pembayaran yang sah sekaligus simbol pemersatu bangsa. Sementara paham rupiah mencakup pemahaman fungsi rupiah dalam perekonomian serta bagaimana bertransaksi secara bijak dan aman,” ujarnya.
Ia menjelaskan, integrasi materi CBP Rupiah dalam pembelajaran tidak akan menambah beban siswa, melainkan memperkaya materi yang sudah ada, seperti pada mata pelajaran IPS, PPKn, Matematika, serta penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Jamil juga menekankan pentingnya peran guru sebagai ujung tombak pendidikan. Ia berharap para tenaga pendidik mampu mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, sekaligus menanamkan literasi keuangan kepada siswa.
“Jadikan literasi keuangan sebagai bagian dari pembentukan karakter, agar siswa tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara finansial dan mencintai tanah airnya,” tambahnya.
Pada kesempatan tersebut, ia turut menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia atas dukungan dan kerja sama dalam menghadirkan program edukasi CBP Rupiah di daerah.
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Sirtalya J. Rando, menyampaikan bahwa program ini bertujuan menanamkan nilai cinta, bangga, dan paham rupiah kepada generasi muda.
Menurutnya, edukasi tersebut tidak hanya sebatas mengenalkan uang sebagai alat transaksi, tetapi juga memahami nilai strategis rupiah sebagai simbol kedaulatan bangsa.
“Cinta rupiah berarti menggunakan uang secara bijak dan tidak boros. Bangga rupiah diwujudkan dengan menjadikannya sebagai alat transaksi utama di Indonesia. Sementara paham rupiah mencakup pemahaman terhadap fungsi, ciri keaslian, hingga cara merawat uang dengan baik,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kondisi fisik uang, seperti tidak melipat, mencoret, atau merusaknya, sebagai bentuk penghargaan terhadap simbol negara.
Selain itu, Bank Indonesia terus mendorong kemudahan sistem pembayaran. Saat ini, masyarakat dapat bertransaksi secara tunai maupun non-tunai, seperti menggunakan QRIS, kartu debit, hingga transfer antarbank.
Menurut Sirtalya, sistem pembayaran yang lancar sangat penting untuk mendukung aktivitas ekonomi. Tanpa sistem yang baik, transaksi akan terhambat meskipun barang tersedia, sehingga berpotensi menyulitkan masyarakat.
Dalam rangka mendukung implementasi program ini, sejumlah tahapan akan dilakukan, mulai dari audiensi dengan Dinas Pendidikan, koordinasi lintas instansi, sosialisasi di sekolah-sekolah, hingga pembentukan tim penyusun bahan ajar.
Nantinya, perwakilan insan pendidikan di Kota Tidore Kepulauan akan dilibatkan dalam penyusunan buku ajar CBP Rupiah jenjang SMP bersama pejuang rupiah.
Dengan langkah ini, program CBP Rupiah diharapkan dapat berjalan sukses dan menjadi percontohan bagi daerah lain di Maluku Utara, sekaligus menumbuhkan kesadaran generasi muda untuk mencintai, bangga, dan memahami rupiah sebagai simbol persatuan dan kedaulatan bangsa.








Tinggalkan Balasan