TIDORE- Kilasanindonesia.com.
Sebuah penelitian bertajuk “Konstruksi Teoretis Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Filosofi Toma Loa Se Banari untuk Memperkuat Literasi Kritis Siswa Kota Tidore Kepulauan” resmi diperkenalkan sebagai inovasi pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal dalam proses pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA).di tidore kepulauan Selasa (2/6/26) dihadiri oleh wakil rektor tiga bidang kemahasiswaan Universitas Bumi Hijrah Tidore, Mansur Djamal, guru, pamong budaya, dan pemuda kelurahan cobodoe

Penelitian tersebut bertujuan memperkuat kemampuan literasi kritis siswa melalui penerapan filosofi Toma Loa Se Banari, sebuah warisan budaya masyarakat Tidore yang mengajarkan pentingnya mengamati fakta secara cermat, mendengarkan informasi dengan saksama, serta menyampaikan pendapat berdasarkan kebenaran dan tanggung jawab.

Ketua Tim Peneliti, Julia Ismail, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa penelitian ini menghasilkan model konseptual pembelajaran Bahasa Indonesia yang mengintegrasikan nilai-nilai Toma Loa Se Banari ke dalam tahapan berpikir kritis siswa. Menurutnya, penelitian diawali dengan identifikasi nilai-nilai filosofis melalui studi lapangan, kemudian dilanjutkan dengan analisis konten untuk menyusun model pembelajaran yang adaptif, kontekstual, dan sesuai dengan karakteristik masyarakat Tidore.

“Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar memahami teks, tetapi juga dilatih untuk menganalisis informasi secara objektif, mengevaluasi berbagai persoalan sosial, dan mengambil keputusan berdasarkan fakta yang akurat,” ujarnya.

Di tengah derasnya arus informasi pada era digital, nilai-nilai yang terkandung dalam filosofi Toma Loa Se Banari dinilai semakin relevan untuk membentuk generasi muda yang kritis, bijaksana, dan bertanggung jawab dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di masyarakat.

Tokoh kebudayaan Kota Tidore Kepulauan, Arifin Abas, menyambut baik hasil penelitian tersebut. Ia menilai bahwa integrasi kearifan lokal ke dalam dunia pendidikan merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menjaga keberlanjutan budaya daerah.

Menurut Arifin, filosofi Toma Loa Se Banari bukan sekadar warisan budaya, melainkan pedoman hidup yang mengajarkan pentingnya kebenaran yang disertai keikhlasan. Nilai tersebut diyakini mampu membentuk karakter generasi muda agar dapat menerapkannya dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun lingkungan.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam budaya Tidore dikenal ungkapan, “Benar belum tentu loa, dan loa belum tentu benar,” yang mengandung makna bahwa kebenaran tidak hanya diukur dari apa yang terlihat dan terdengar, tetapi juga harus disertai niat yang tulus serta sikap yang bijaksana. Filosofi tersebut tidak hanya mengatur hubungan antarmanusia, tetapi juga mengajarkan keharmonisan antara manusia dan alam.

Penelitian ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal memiliki peran penting dalam pembangunan karakter dan kompetensi generasi muda. Selain memperkuat literasi kritis siswa, pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pelestarian identitas budaya melalui pemanfaatan Bahasa Tidore sebagai sumber pembelajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi berbagai daerah di Indonesia dalam mengembangkan model pembelajaran berbasis budaya lokal. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi media pelestarian nilai-nilai budaya yang mampu melahirkan generasi yang cerdas, kritis, berkarakter, dan tetap berakar kuat pada identitas daerahnya. (Bur/red