HALTIM – Bagian plafon di ruang Poli Anak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Maba, Kabupaten Halmahera Timur, dilaporkan ambruk akibat kondisi plafon yang lembap dan berjamur. Peristiwa tersebut memicu sorotan terhadap kualitas pembangunan gedung baru RSUD Maba yang menelan anggaran sekitar Rp150 miliar dari pemerintah pusat.

Kerusakan terjadi pada plafon ruang Poli Anak. Sejumlah pihak menilai ambruknya plafon diduga berkaitan dengan kualitas pemasangan material gypsum yang kurang maksimal, sehingga tidak mampu bertahan saat terjadi guncangan gempa yang beberapa kali melanda wilayah tersebut.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat. Sebagai fasilitas kesehatan yang dibangun dengan anggaran besar, gedung RSUD Maba diharapkan memiliki kualitas konstruksi yang baik serta mampu menjamin keselamatan pasien, tenaga kesehatan, dan pengunjung.

Menanggapi kejadian tersebut, pihak pelaksana proyek dari PT WIKA memberikan penjelasan terkait penyebab kerusakan. Petugas PT WIKA, Agus, mengatakan ambruknya plafon tidak semata-mata disebabkan oleh gempa, melainkan karena adanya kelembapan yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama.

“Kejadian itu dikarenakan adanya kelembapan yang menyebabkan jamur menempel pada bagian plafon. Akibatnya, baut penahan gypsum mengalami karat sehingga plafon tersebut akhirnya ambruk secara keseluruhan,” ujar Agus.

Ia juga mengakui adanya kekurangan dalam proses pemasangan dan pengawasan kualitas pekerjaan.

“Hal ini memang menjadi kelalaian kami dari PT WIKA karena pemasangan plafon ini kurang teliti dalam pemeriksaan kualitas pemasangannya,” katanya.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian publik mengingat RSUD Maba merupakan salah satu fasilitas kesehatan strategis di Kabupaten Halmahera Timur. Masyarakat berharap pihak terkait segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kondisi bangunan, termasuk pada bagian konstruksi lainnya, guna memastikan keamanan fasilitas dan kelancaran pelayanan kesehatan.