Tulisan ini adalah lanjutan dari opini saya yang berjudul “Ketika Sains Berhenti Bicara: Kegagalan Nalar Ilmiah Dan Lompatan Ke Spekulasi Teologis Di Kepulauan Sula”, yang terbit pada 9 Septermber 2026. Hingga hari ini persoalan penanganan mitigasi El Nino masih perlu dibahas dan diperdalam , beberapa perspektif yang ditulis dalam tulisan ini masih berkelindan dengan yang sebelumnya.
Mengutip pemberitaan Kompas Tv, pada beberapa hari yang lalu El Nino 2026 kini berada pada level sangat kuat dengan Indeks Nino 3.4 di atas angka 2, dan BMKG memprediksi fenomena ini baru berakhir pada akhir caturwulan I 2027.
Kekeringan masih diperingatkan berlanjut hingga Oktober karena awal musim hujan mundur. Peringatannya sudah lama tersedia: BMKG mengingatkan potensi El Nino sejak pertengahan Maret 2026, dan WMO menetapkan El Nino aktif pada 2 Juni.
Pada dasarian III Agustus, curah hujan di banyak wilayah, termasuk Maluku Utara, diprakirakan rendah, dengan risiko bagi ketersediaan air bersih, pertanian, dan karhutla. BMKG juga merekomendasikan pemanfaatan air hujan, identifikasi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor, serta konservasi air, dan meminta pemerintah daerah bersiaga memberikan bantuan logistik bagi wilayah terdampak.
Namun di Kabupaten Kepulauan Sula, warga beberapa desa mengeluhkan air PDAM yang mati, sementara respons pemerintah daerah terbatas pada shalat istighosah dan himbauan agar tidak membakar lahan. Esai ini menganalisis kesenjangan antara informasi dan tindakan tersebut dengan konsep kebodohan struktural, yaitu kegagalan yang terlembaga, bukan sekadar ketidaktahuan individu pejabat.
Alvesson dan Spicer (2012) menyebut kondisi ini functional stupidity: organisasi membatasi refleksi kritis sehingga kepatuhan prosedural lebih dihargai daripada pemecahan masalah. Birokrasi mungkin cukup cakap secara administratif, tetapi gagal mengubah peringatan dini menjadi status siaga kekeringan atau anggaran darurat. Kegagalan ini juga dapat dibaca sebagai kekerasan struktural (Galtung, 1969): sistem menghalangi terpenuhinya kebutuhan dasar tanpa pelaku tunggal yang bisa ditunjuk. Model Pressure and Release (Wisner dkk., 2004) mempertegasnya, karena bencana lahir dari akar masalah berupa tata kelola lemah dan tekanan dinamis berupa minimnya investasi air bersih. Kekeringan hanya pemicu.
Dari sisi implementasi kebijakan, Edwards III (1980) menyebut komunikasi, sumber daya, disposisi pelaksana, dan struktur birokrasi sebagai penentu. Ketiadaan koordinasi PDAM, dinas pertanian, dan BPBD menunjukkan lemahnya dua faktor terakhir, sedangkan rasionalitas terbatas (Simon, 1957) mendorong pemilihan opsi yang mudah dan memuaskan secara politis. Di sinilah politik simbolik (Edelman, 1964) bekerja: istighosah dan himbauan murah, cepat, mudah didokumentasikan, dan tidak menuntut pertanggungjawaban hasil.
Beck (1992) menyebut pola ini organized irresponsibility, yaitu risiko diakui tetapi tak seorang pun memikul tanggung jawabnya. Ketika kekeringan dibingkai sebagai takdir, kegagalan perencanaan terlindung dari kritik, padahal krisis sering kali lebih ditentukan oleh akuntabilitas pemerintah dan akses warga terhadap sumber daya daripada faktor alam (Sen, 1981).
Persoalan di Kepulauan Sula karenanya bukan kurangnya doa atau himbauan, melainkan tidak adanya mekanisme yang mengubah peringatan iklim menjadi tindakan. Langkah minimalnya mencakup penetapan status siaga kekeringan, distribusi air bersih darurat, penganggaran belanja tak terduga, dukungan bagi petani , kebutuhan air bagi masyarkat terdampak, dan koordinasi lintas dinas yang terukur. Doa tetap bernilai sebagai ikhtiar spiritual, tetapi tidak dapat menggantikan kewajiban pemerintah melindungi warganya.
Daftar Pustaka
Alvesson, M., & Spicer, A. (2012). A stupidity-based theory of organizations. Journal of Management Studies, 49(7), 1194–1220.
Beck, U. (1992). Risk Society: Towards a New Modernity. Sage.
Edelman, M. (1964). The Symbolic Uses of Politics. University of Illinois Press.
Edwards III, G. C. (1980). Implementing Public Policy. Congressional Quarterly Press.
Galtung, J. (1969). Violence, peace, and peace research. Journal of Peace Research, 6(3), 167–191.
Kompas TV. (2026). El Nino capai level sangat kuat, BMKG peringatkan potensi kekeringan berlanjut hingga Oktober 2026. https://www.kompas.tv/info-publik/692623/
Sen, A. (1981). Poverty and Famines. Oxford University Press.
Simon, H. A. (1957). Administrative Behavior (2nd ed.). Macmillan.
Wisner, B., Blaikie, P., Cannon, T., & Davis, I. (2004). At Risk (2nd ed.). Routledge.





Tinggalkan Balasan