TIDORE — Suasana khidmat menyelimuti pelaksanaan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di Sigi Kolano pada Jumat (20/3/2026). Ibadah ini digelar lebih awal oleh Kesultanan Tidore berdasarkan kalender adat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Sultan Tidore, Husain Alting Syah, menjelaskan bahwa penetapan 1 Syawal di lingkungan Kesultanan menggunakan metode hisab yang telah ditentukan jauh hari sebelumnya melalui kalender khas Kesultanan yang telah digunakan sejak ratusan tahun lalu.

“Kita punya kalender sendiri yang sudah ada sejak 800 tahun lalu digunakan untuk menetapkan 1 Syawal, sehingga dengan kalender itu kita berpatokan,” ujar Sultan saat ditemui di Kadaton Sultan Tidore usai pelaksanaan Sholat Id.

Sultan Tidore Husain Alting Syah (Foto: FMG)

Terkait perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri dengan yang ditetapkan Pemerintah Republik Indonesia, Sultan menegaskan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dipersoalkan. Menurutnya, perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah adalah hal yang wajar.

“Perbedaan ini tidak perlu dipertentangkan, justru dari perbedaan itu kita melihat keindahan dalam khazanah Islam,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa di balik perbedaan waktu, esensi ibadah tetaplah sama. Umat Islam, kata dia, menjalankan tata cara yang serupa dan menghadap kepada Tuhan yang sama.

“Yang sholat Id hari ini maupun besok sama-sama mengumandangkan takbir tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat kedua, sujud dan menyembah kepada Allah yang sama, sehingga tidak perlu dipertentangkan,” tegasnya.

Pelaksanaan Sholat Id di Sigi Kolano ini diikuti masyarakat dan perangkat adat Kesultanan dengan penuh kekhusyukan. Tradisi ini menjadi cerminan kuatnya kearifan lokal yang tetap terjaga di tengah dinamika penetapan kalender keagamaan secara nasional.