Oleh: Rafsanjani Hi. Laha
Tidak ada kisah cinta yang benar-benar berjalan di atas garis lurus. Di balik senyum dua insan yang akhirnya bersanding di pelaminan, sering kali tersimpan perjalanan panjang yang dipenuhi air mata, penantian, dan pergulatan batin. Cinta bukan sekadar perasaan yang tumbuh karena saling menyukai, tetapi sebuah keputusan untuk terus memilih satu sama lain, bahkan ketika keadaan berkali-kali menguji keyakinan itu.
Saya mengibaratkan perjalanan cinta seperti permainan domino. Satu keping yang bergerak akan menggerakkan keping lainnya. Setiap pertemuan, perpisahan, pertengkaran, keraguan, hingga proses saling memaafkan merupakan rangkaian yang saling berkaitan. Apa yang tampak sebagai musibah hari ini, bisa jadi merupakan jalan yang disiapkan Tuhan untuk menghadirkan kebahagiaan di kemudian hari.
Banyak pasangan gagal bukan karena mereka berhenti saling mencintai, melainkan karena mereka berhenti memperjuangkan cinta. Ketika ego lebih besar daripada pengertian, ketika gengsi mengalahkan kerendahan hati, dan ketika emosi lebih didengar daripada hati nurani, hubungan perlahan kehilangan arah. Padahal, cinta yang dewasa tidak pernah menuntut kesempurnaan. Ia mengajarkan keberanian menerima kekurangan, memperbaiki kesalahan, dan bertumbuh bersama.
Dalam pandangan Islam, pernikahan bukanlah puncak dari kisah romantis, melainkan awal dari ibadah yang panjang. Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Rum ayat 21 bahwa pasangan diciptakan agar manusia memperoleh ketenangan (sakinah), serta dianugerahi kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Ayat ini menegaskan bahwa rumah tangga dibangun bukan hanya dengan cinta, tetapi juga dengan komitmen dan tanggung jawab.
Karena itu, setiap drama yang hadir sebelum pelaminan seharusnya tidak dipandang sebagai kutukan. Ia adalah proses seleksi alam bagi sebuah hubungan. Apakah cinta itu cukup kuat untuk bertahan? Apakah dua hati itu cukup dewasa untuk saling menguatkan? Ataukah semuanya hanya bertumpu pada euforia sesaat?
Sesungguhnya, cinta yang bertahan bukanlah cinta yang bebas dari masalah, melainkan cinta yang tidak kehilangan arah ketika masalah datang. Kesabaran menjadi bahasa yang paling indah. Kejujuran menjadi pondasi yang paling kokoh. Sementara doa menjadi kekuatan yang tak pernah terlihat, tetapi selalu bekerja dalam diam.
Pelaminan akhirnya bukanlah hadiah bagi mereka yang beruntung. Ia adalah buah dari perjuangan panjang, dari air mata yang disembunyikan, dari doa-doa yang dipanjatkan pada sepertiga malam, dan dari keyakinan bahwa Allah tidak pernah mempertemukan dua hati tanpa tujuan.
Domino kehidupan akan terus bergerak. Setiap keputusan, sekecil apa pun, akan menentukan langkah berikutnya. Memilih bertahan ketika ingin menyerah, memilih memaafkan ketika terluka, dan memilih memperbaiki ketika hubungan hampir runtuh adalah keping-keping domino yang pada akhirnya membentuk kisah yang utuh.
Pada akhirnya, cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu datang atau siapa yang paling sempurna. Cinta adalah tentang siapa yang tetap tinggal ketika badai datang, siapa yang terus menggenggam tangan pasangannya ketika dunia terasa berat, dan siapa yang bersama-sama mengucapkan janji suci di hadapan Allah dengan keyakinan bahwa perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.
Maka, jika suatu hari dua insan akhirnya berdiri di pelaminan dengan senyum yang tak mampu disembunyikan, ketahuilah bahwa senyum itu bukan lahir dari perjalanan yang mudah. Senyum itu adalah kemenangan atas segala keraguan, luka, dan penantian. Sebab, seperti domino yang jatuh satu demi satu, setiap ujian ternyata sedang menyusun jalan menuju kepastian yang telah ditakdirkan oleh-Nya.Versi ini lebih bernuansa editorial, reflektif, dan cocok untuk dimuat di media massa atau rubrik opini dengan tetap menggabungkan nilai sastra dan pesan keislaman.




Tinggalkan Balasan