Oleh: Rafsanjani Hi. Laha
Piala Dunia FIFA 2026 kembali membakar semangat jutaan pecinta sepak bola, termasuk masyarakat Maluku Utara. Di warung kopi, halaman rumah, hingga ruang-ruang publik, masyarakat larut dalam sorak sorai mendukung tim favorit mereka. Sepak bola menjadi bahasa universal yang menyatukan berbagai kalangan.
Namun, di balik euforia itu, tersimpan sebuah kenyataan yang menyakitkan. Di saat dunia menikmati pesta sepak bola terbesar, Maluku Utara justru kehilangan identitasnya di level nasional.
Kepergian identitas klub yang selama ini membawa nama Maluku Utara menjadi pukulan bagi masyarakat. Klub profesional yang sempat menjadi simbol kebanggaan daerah kini tidak lagi mengusung identitas Maluku Utara setelah perubahan nama dan home base. Akibatnya, Maluku Utara kembali tidak memiliki representasi di kasta tertinggi sepak bola nasional.
Padahal, Maluku Utara bukanlah daerah yang miskin talenta. Dari Ternate, Tidore, Halmahera, Kepulauan Sula hingga Pulau Morotai, lahir banyak pemain berbakat yang mengisi berbagai klub di Indonesia. Antusiasme masyarakat terhadap sepak bola pun tidak pernah surut. Turnamen lokal selalu dipadati peserta dan penonton. Artinya, yang hilang bukanlah kecintaan terhadap sepak bola, melainkan wadah yang mampu mengangkat nama daerah di panggung nasional.
Lebih memprihatinkan lagi, klub-klub perserikatan yang dahulu menjadi kebanggaan, seperti Persiter Ternate, Persihalbar, Persihaltim, dan klub-klub lainnya, belum mampu kembali menjadi kekuatan yang diperhitungkan dalam kompetisi nasional. Akibatnya, generasi muda kehilangan jalur pembinaan yang berkesinambungan menuju sepak bola profesional.
Kehilangan identitas sepak bola bukan sekadar persoalan nama klub. Ini menyangkut harga diri daerah, kebanggaan masyarakat, hingga masa depan pembinaan atlet. Sebuah daerah akan sulit melahirkan pemain profesional secara berkelanjutan apabila tidak memiliki klub yang kuat, kompetisi yang rutin, dan sistem pembinaan yang terstruktur.
Momentum Piala Dunia seharusnya menjadi bahan refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan di Maluku Utara. Pemerintah daerah, Asprov PSSI, Askab/Askot, dunia usaha, dan masyarakat perlu duduk bersama merumuskan arah baru pembangunan sepak bola. Daerah ini membutuhkan klub yang benar-benar lahir, tumbuh, dan berakar di Maluku Utara—bukan sekadar membawa nama daerah untuk kemudian berpindah identitas.
Sudah saatnya Maluku Utara membangun kembali marwah sepak bolanya. Investasi terhadap pembinaan usia dini, kompetisi antarklub yang berjenjang, peningkatan kualitas pelatih dan wasit, serta dukungan nyata kepada klub-klub lokal harus menjadi prioritas. Sebab identitas sepak bola tidak dibangun dalam semalam, tetapi melalui proses panjang yang konsisten.
Piala Dunia akan berakhir ketika peluit panjang final dibunyikan. Namun, perjuangan mengembalikan identitas sepak bola Maluku Utara baru saja dimulai. Jika tidak ada langkah nyata hari ini, maka generasi mendatang hanya akan mengenal euforia sepak bola dunia, tanpa pernah merasakan kebanggaan menyaksikan tim kebanggaan Maluku Utara berlaga di level nasional.




Tinggalkan Balasan