TERNATE – Wilayah RT 05 Kelurahan Akehuda, Kota Ternate, mengalami kondisi yang memprihatinkan akibat seringnya terjadi genangan air hujan yang berujung pada banjir. Selain itu, daya tampung tanggul bandara yang sudah melewati ambang batas menambah risiko rumah warga tergenang, terutama saat curah hujan tinggi.
Terdapat tiga faktor utama yang menyebabkan masalah ini. Pertama, faktor topografi wilayah. Sebagian besar wilayah Kelurahan Akehuda memiliki kemiringan dari pantai ke darat, sedangkan RT 05 cenderung miring dari darat ke pantai. Namun, keberadaan infrastruktur bandara menghambat aliran air, menyebabkan selokan tidak dapat mengalirkan air dengan baik. Sebagian besar wilayah RT 05 telah dibatasi oleh dinding bandara, sehingga saat hujan deras, air meluap dan menyebabkan genangan.
Kedua, kapasitas drainase yang terbatas. Ukuran selokan yang kecil tidak mampu menampung debit air yang tinggi saat musim hujan. Pembangunan Bandara Sultan Babullah Ternate mengubah pola aliran air, yang sebelumnya langsung menuju pantai kini menjadi terhambat, sehingga meningkatkan risiko banjir.
Ketiga, daya tampung tanggul yang tidak memadai. Yumima Sinyo, alumni doktor lingkungan Universitas Diponegoro Semarang, menegaskan bahwa kapasitas tanggul memiliki peran penting dalam menampung debit air hujan.
Jika kapasitas tanggul terlalu kecil atau sudah melewati ambang batas, air akan meluap ke wilayah sekitar dan menyebabkan genangan. Selain itu, kondisi tanggul yang semakin menurun seiring waktu membuatnya rentan terhadap kerusakan, sehingga kemampuannya menahan air semakin berkurang.
Banjir yang terjadi di RT 05 pada 15 Desember 2024 menjadi bukti nyata dari permasalahan ini. Hujan deras sejak pagi hingga sore menyebabkan banjir bandang, pohon tumbang di Jalan Bandara Babullah menimpa rumah warga dan menutup akses jalan, serta air yang meluap dari selokan menggenangi rumah-rumah warga hingga setinggi lutut orang dewasa. Kejadian ini menunjukkan bahwa kapasitas drainase yang ada belum memadai untuk menampung curah hujan tinggi.
Hari ini, 20 Maret 2025, Kota Ternate kembali diguyur hujan deras, menyebabkan RT 05 Kelurahan Akehuda kembali tergenang air. Hal ini mengindikasikan bahwa daya tampung tanggul yang tidak memadai terus menjadi ancaman. Untuk mengurangi risiko bencana banjir, diperlukan peningkatan kapasitas tanggul dan pengelolaan drainase yang lebih baik, serta perhatian terhadap pemeliharaan infrastruktur tanggul agar tetap efektif dalam menahan debit air hujan.
Selain itu, curah hujan tinggi juga meningkatkan risiko pencemaran lingkungan. Air hujan deras membawa sampah dari jalan, selokan, dan tempat terbuka lainnya ke dalam saluran drainase, menyebabkan penyumbatan yang memperparah genangan. Sampah plastik, kertas, kaleng, dan botol yang terbawa air hujan tidak hanya mencemari lingkungan, tetapi juga menurunkan estetika dan merusak ekosistem. Genangan air juga berpotensi menjadi sarang nyamuk, tikus, dan serangga pembawa penyakit seperti demam berdarah dan leptospirosis, yang mengancam kesehatan masyarakat.
Masyarakat sangat membutuhkan perhatian dari semua pihak dalam mengatasi permasalahan ini. Diperlukan solusi yang tepat, baik dalam penanganan tanggul maupun dalam pengelolaan lingkungan, agar genangan air yang terjadi setiap musim hujan tidak terus meresahkan warga.




Tinggalkan Balasan