TERNATE – Tim Pencegahan Satuan Tugas Wilayah (Satgaswil) Maluku Utara Densus 88 Anti Teror Polri menggelar Road Show Kebangsaan di SD Negeri 35 Kota Ternate, Sabtu (10/1).

Kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi kepada guru dan orang tua murid terkait bahaya penyebaran paham Intoleransi, Radikalisme, Ekstremisme, dan Terorisme (IRET), sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak di media sosial dan game online.

Road show tersebut dihadiri personel Satgaswil Densus 88 AT Maluku Utara, Kepala SD Negeri 35 Kota Ternate, Kepala SD Negeri 36, serta diikuti sekitar 60 peserta yang terdiri dari dewan guru dan orang tua murid dari kedua sekolah.

Kepala SD Negeri 35 Kota Ternate, Nunung, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kehadiran Densus 88 yang dinilai telah memberikan edukasi penting dan relevan dengan kondisi saat ini.

Ia menekankan bahwa pemahaman mengenai pencegahan radikalisme, khususnya melalui media digital, sangat dibutuhkan oleh guru dan orang tua di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

“Kami berterima kasih kepada Tim Densus 88 AT Polri yang telah meluangkan waktu memberikan sosialisasi kepada guru dan orang tua murid SDN 35 dan SDN 36. Materi ini sangat penting, terutama terkait upaya mencegah anak-anak terpapar paham radikal melalui media sosial dan game online,” ujarnya.

Nunung berharap pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan tersebut dapat diterapkan dan disebarluaskan di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitar.

Sementara itu, Kabidhumas Polda Maluku Utara Kombes Pol. Wahyu Istanto Bram W, S.H., S.I.K., M.I.K. menjelaskan bahwa dalam kegiatan tersebut personel Densus 88 AT Satgaswil Maluku Utara memaparkan tugas pokok Densus 88 dalam upaya pencegahan dan pemberantasan terorisme, sekaligus mengulas pola dan modus baru penyebaran paham radikal.

Ia mengungkapkan bahwa sasaran rekrutmen jaringan radikal kini tidak hanya menyasar orang dewasa, tetapi juga generasi muda hingga anak-anak usia sekolah yang berada pada fase pencarian jati diri.

“Modus aksi teror saat ini bahkan menempatkan perempuan dan anak-anak sebagai pelaku. Media sosial dan game online sering menjadi pintu masuk utama penyebaran paham tersebut,” jelasnya.

Selain itu, Densus 88 juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang membuat anak rentan terpapar radikalisme, seperti kondisi keluarga yang kurang harmonis, pengalaman perundungan di sekolah, serta kondisi emosional yang belum stabil.

“Kunci utama pencegahan ada pada peran orang tua. Pengawasan aktivitas digital anak serta membangun komunikasi yang terbuka dan sehat menjadi benteng pertahanan pertama,” tegasnya.