HALMAHERA TIMUR – Aksi pemalangan jalan yang masih berlangsung di Desa Subaim, Kabupaten Halmahera Timur, mulai berdampak pada aktivitas perusahaan dan perekonomian masyarakat. Terhambatnya akses jalan menyebabkan sejumlah karyawan PT ARA dirumahkan, sementara kontraktor PT Jaga Aman Sarana (JAS) dikabarkan berpotensi mengambil langkah serupa pada akhir Juli 2026 apabila persoalan tersebut belum terselesaikan.

Merasa terdampak langsung, sejumlah karyawan yang dirumahkan mendatangi Kantor Desa Subaim, Sabtu (25/7/2026), untuk menyampaikan aspirasi sekaligus meminta pemerintah desa segera memfasilitasi penyelesaian konflik yang menghambat aktivitas perusahaan.

Salah seorang karyawan yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan mengatakan, penutupan akses jalan telah mengganggu operasional perusahaan dan berdampak langsung pada mata pencaharian para pekerja.

> “Kami datang untuk menyampaikan aspirasi agar persoalan ini segera diselesaikan. Kami hanya ingin kembali bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

Menurut para pekerja, terhentinya operasional akibat akses jalan yang ditutup membuat aktivitas perusahaan tidak berjalan normal. Kondisi tersebut mengakibatkan sebagian tenaga kerja dirumahkan dan dikhawatirkan jumlah pekerja yang terdampak akan terus bertambah apabila belum ada penyelesaian.

Usai menyampaikan aspirasi di Kantor Desa Subaim, sejumlah karyawan juga mendatangi kediaman Halip yang disebut sebagai koordinator aksi pemalangan. Mereka meminta penjelasan sekaligus berharap ada solusi yang dapat mengakhiri persoalan tersebut.

> “Kami tidak mencari konflik. Kami hanya meminta agar persoalan ini segera selesai sehingga kami bisa kembali bekerja,” kata salah seorang pekerja.

Sejumlah warga Desa Subaim juga menyatakan keberatan atas penutupan akses jalan. Mereka menilai dampak pemalangan tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi di sekitar kawasan perusahaan.

> “Yang paling dirugikan adalah masyarakat sendiri. Banyak kepala keluarga bergantung pada pekerjaan di perusahaan. Kami berharap jalan segera dibuka dan persoalan diselesaikan melalui dialog,” ujar seorang warga.

Dalam penyampaian aspirasinya, beberapa warga dan karyawan juga mengemukakan dugaan adanya pihak luar yang memengaruhi sebagian masyarakat untuk mempertahankan aksi pemalangan. Mereka menyebut nama Sofyan Sahril sebagai pihak yang diduga memiliki peran dalam dinamika tersebut.

Namun, informasi tersebut masih sebatas pernyataan dari sejumlah warga dan pekerja yang ditemui di lokasi. Hingga berita ini diterbitkan, Sofyan Sahril belum memberikan tanggapan atau klarifikasi. Redaksi masih berupaya menghubungi yang bersangkutan untuk memperoleh konfirmasi serta memberikan ruang hak jawab sesuai prinsip keberimbangan dalam pemberitaan.

Di tengah situasi yang terus berlarut, masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur, Pemerintah Desa Subaim, serta aparat terkait segera memfasilitasi dialog antara seluruh pihak agar persoalan dapat diselesaikan secara damai dan sesuai ketentuan hukum.

> “Kami berharap semua pihak mengedepankan musyawarah dan penyelesaian sesuai aturan. Jangan sampai persoalan ini terus berlarut karena yang paling merasakan dampaknya adalah masyarakat kecil,” tutup salah seorang warga.