Oleh: Sahrul Takim: Mantan Ketua Komisariat HPMS STAIN Sanana Periode 2008-2010

Sejarah sering kali hanya mengingat mereka yang berdiri di garis depan ketika kemenangan telah diraih. Padahal, di balik setiap keberhasilan daerah, selalu ada tokoh-tokoh yang bekerja dalam sunyi, mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan kehidupannya tanpa meminta penghargaan apa pun. Salah satu nama yang layak ditempatkan dalam deretan pejuang besar Kabupaten Kepulauan Sula adalah Kolonel Drs. H. Qasim Maurapey.

Ironisnya, beliau bukan orang Sula. Bukan pula pelajar atau mahasiswa Sula. Ia adalah seorang tentara, seorang abdi negara yang berasal dari Ambon. Namun dalam perjalanan sejarah perjuangan masyarakat Sula, nama Qasim Maurapey justru menjelma menjadi salah satu bagian yang sulit dipisahkan dari lahirnya kesadaran kolektif masyarakat untuk memperjuangkan masa depan daerahnya.

Kolonel Drs. H. Qasim Maurapey lahir di Negeri Tengah-Tengah, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku, pada tanggal 10 November 1925. Meski bukan putra asli Sula, sejarah mencatat bahwa dedikasi dan kecintaannya terhadap perjuangan masyarakat Sula begitu besar. Keterlibatannya bukan tanpa alasan. Saat bertugas di Makassar, Sulawesi Selatan, beliau memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para sesepuh dan tokoh-tokoh Sula yang saat itu memiliki cita-cita besar untuk meningkatkan derajat masyarakat Sula melalui pendidikan, organisasi, dan perjuangan politik. Dari kedekatan itulah lahir keterpanggilan untuk ikut berjuang bersama masyarakat Sula.

Pada masa ketika pendidikan masih menjadi barang mewah bagi sebagian besar masyarakat Sula, ketika akses transportasi sangat terbatas, ketika jarak geografis menjadi penghalang besar antara Sula dan pusat pemerintahan, perjuangan untuk mendapatkan perhatian negara bukanlah perkara mudah. Saat itu, masyarakat Sula membutuhkan figur yang memiliki kapasitas, jaringan, keberanian, dan pengaruh untuk menyuarakan aspirasi mereka.

Dalam situasi itulah Qasim Maurapey hadir.

Kehadirannya bukan karena kepentingan politik pribadi. Bukan pula karena ambisi jabatan atau keuntungan ekonomi. Ia datang karena kepercayaan yang diberikan oleh tokoh-tokoh Sula saat itu. Sebuah kepercayaan yang kemudian ia jawab dengan pengabdian yang luar biasa.

Tanggal 20 September 1959 menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah perjalanan Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula. Pada masa-masa awal organisasi ini tumbuh dan mencari bentuk perjuangannya, Qasim Maurapey mengambil peran yang tidak ringan. Ia menjadi figur yang membantu memperkuat eksistensi organisasi sekaligus memperluas ruang perjuangan masyarakat Sula di tingkat yang lebih luas.

Sejak dipercaya memimpin PP HPMS pada tahun 1959, Qasim Maurapey bersama seluruh pengurus mulai membentuk cabang-cabang organisasi, menyusun arah perjuangan yang jelas, merumuskan visi peningkatan kualitas pendidikan masyarakat Sula, meningkatkan derajat dan martabat orang Sula, serta mulai menanamkan gagasan besar tentang pentingnya pemekaran Kabupaten Kepulauan Sula. Dalam konteks inilah, HPMS tidak hanya menjadi organisasi pelajar dan mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang lahirnya gagasan-gagasan strategis tentang masa depan daerah.

Apa yang dilakukannya jauh melampaui tugas formal seorang tentara. Ia mengorbankan waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Ia mencurahkan tenaga untuk mengonsolidasikan kekuatan perjuangan. Ia bahkan memberikan dukungan materi bagi organisasi yang secara geografis dan kultural bukan berasal dari daerahnya sendiri.

Di sinilah letak kebesaran seorang Qasim Maurapey.

Ia membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu dibatasi oleh identitas kesukuan, wilayah, atau asal-usul. Cinta terhadap suatu daerah tidak selalu lahir karena darah yang mengalir di tubuh, tetapi dapat tumbuh karena kepedulian terhadap nasib manusia yang hidup di dalamnya.

Ketika banyak orang memilih menjadi penonton sejarah, Qasim Maurapey memilih menjadi pelaku sejarah.

Ketika sebagian orang hanya berbicara tentang ketidakadilan pembangunan yang dialami daerah-daerah kepulauan, ia memilih ikut memperjuangkan perubahan itu.

Ketika jalan menuju pemekaran Kabupaten Kepulauan Sula masih panjang dan penuh tantangan, ia berdiri bersama masyarakat dan kader-kader HPMS untuk menjaga nyala perjuangan tetap hidup.

Berdasarkan berbagai catatan sejarah yang berhasil ditelusuri, Kolonel Drs. H. Qasim Maurapey juga dikenal sebagai seorang tokoh militer dan intelektual Maluku yang memiliki kapasitas luar biasa. Beliau pernah menjabat sebagai Ka Yazah Kodam XV Pattimura dan juga dipercaya sebagai Kepala Sejarah Kodam Pattimura pada masa kepemimpinan Brigjen Wing Wiryawan sebagai Pangdam XV Pattimura periode 1970–1974. Bahkan, beliau dikenal sebagai salah satu tokoh yang berada di balik gagasan berdirinya Tugu Pattimura di Ambon, sebuah monumen penting yang menjadi simbol perjuangan rakyat Maluku.

Jauh sebelumnya, saat Republik Indonesia menghadapi pemberontakan RMS tahun 1950, Qasim Maurapey yang saat itu berpangkat Letnan Satu (Lettu) menjadi salah satu pimpinan kompi pasukan yang terlibat dalam operasi penumpasan RMS. Rekam jejak ini menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya pejuang organisasi, tetapi juga pejuang bangsa yang mengabdikan hidupnya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tak hanya sebagai tentara dan pejuang, Qasim Maurapey juga dikenal sebagai seorang pecinta ilmu pengetahuan. Ia pernah menjadi dosen di Universitas Cokroaminoto pada tahun 1965. Pandangannya tentang pendidikan sangat kuat. Salah satu ungkapannya yang masih dikenang hingga kini adalah:

“Dengan ilmu kau bisa mencari harta, tapi harta tidak bisa membeli ilmu.”

Dan satu lagi petuah yang menunjukkan filosofi hidupnya:

“Ilmu dibawa mati, harta tidak. Banggalah karena kau pintar, bukan karena kaya.”

Petuah ini menjelaskan mengapa dirinya begitu dekat dengan dunia pelajar dan mahasiswa. Kepemimpinannya di PP HPMS bukan sekadar karena kapasitas organisatoris, tetapi karena ia memiliki keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan utama untuk mengubah nasib masyarakat. Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Anies Baswedan dalam bukunya Merawat Tenun Kebangsaan yang menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi utama untuk membangun kualitas manusia dan masa depan bangsa (Baswedan, 2017, hlm. 37).

Karena itu, menulis sejarah Kepulauan Sula tanpa menyebut nama Qasim Maurapey adalah ketidakadilan. Mengingat perjuangan pemekaran tanpa mengenang pengorbanannya adalah bentuk amnesia kolektif yang tidak pantas dilakukan oleh generasi penerus.

Hari ini, ketika Kabupaten Kepulauan Sula telah berdiri sebagai daerah otonom, ketika jalan-jalan telah dibangun, kantor-kantor pemerintahan berdiri, dan berbagai fasilitas publik hadir di tengah masyarakat, kita patut bertanya kepada diri sendiri: berapa banyak dari generasi muda yang mengenal nama Qasim Maurapey?

Padahal, di antara banyak tokoh yang mengukir sejarah daerah ini, beliau adalah salah satu sosok yang membuktikan bahwa perjuangan tidak mengenal batas geografis.

Ia mungkin lahir di Ambon, tetapi sebagian jejak pengabdiannya tertanam kuat di tanah Sula.

Ia mungkin bukan putra kandung daerah ini, tetapi sejarah telah menempatkannya sebagai salah satu putra terbaik yang pernah ikut memperjuangkan martabat masyarakat Kepulauan Sula.

Maka, sudah sewajarnya generasi hari ini tidak hanya mengenang namanya sebagai bagian dari arsip sejarah, tetapi juga menjadikannya teladan tentang arti pengabdian yang tulus. Sebab pembangunan daerah tidak pernah lahir dari orang-orang yang hanya mencintai dirinya sendiri, melainkan dari mereka yang bersedia memberikan sesuatu bagi tanah yang mereka yakini layak untuk diperjuangkan.

Sebagai penutup, saya hanya ingin mengingatkan bahwa jangan sampai kita menjadi generasi yang pelupa sejarah, apalagi sengaja menghilangkan sejarah. Sebab, menceritakan perjalanan HPMS tidak mungkin dilepaskan dari nama Kolonel Drs. H. Qasim Maurapey. Mengisahkan perjuangan peningkatan derajat masyarakat Sula dan perjalanan panjang menuju lahirnya Kabupaten Kepulauan Sula tanpa menyebut namanya adalah menghilangkan salah satu mata rantai penting dalam sejarah itu sendiri.

Sebagaimana pesan abadi Soekarno:

“Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah” (JAS MERAH).

Dan dalam konteks sejarah HPMS serta perjuangan Kepulauan Sula, pesan itu menemukan maknanya yang paling nyata.

Negeri ini akan terlalu amnesia apabila melupakan namamu. Sejarah Kepulauan Sula mungkin tidak sepenuhnya ditulis olehmu, tetapi sebagian halamannya tidak akan pernah lengkap tanpa menyebut namamu.

 

Jurnalis: Ram Umanailo