Dunia bergerak semakin cepat.
Kecerdasan buatan kini mampu menulis kode dalam hitungan detik. Anak-anak di kota mulai akrab dengan komputer bahkan sebelum lancar membaca. Di dunia kerja yang akan mereka masuki kelak, kemampuan digital bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan bekal dasar.
Lalu, bagaimana dengan anak-anak di kampung?
Apakah jarak geografis akan membuat mereka berjalan lebih lambat? Ataukah, dengan sedikit ruang dan seseorang yang bersedia menuntun, mereka juga bisa berdiri sejajar?
Jawaban atas pertanyaan itu saya temukan di sebuah teras rumah sederhana di Kampung Kawata.
Di sana, seorang anak berusia 12 tahun bernama Idho datang membawa sebuah permintaan yang terdengar sederhana.
“Om Id, ajar Idho main laptop lagi.”
Idho adalah keponakan saya. Ia baru saja naik ke kelas satu SMP.
Kalimat pendek itu membuat saya berhenti sejenak. Bagi sebagian orang, belajar menggunakan laptop mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Namun bagi Idho, permintaan itu seperti mengetuk sebuah pintu menuju dunia yang lebih luas.
Ia ingin bisa.
Ia tidak ingin menjadi anak kampung yang gagap teknologi hanya karena tumbuh jauh dari hiruk-pikuk kota. Ia sadar, suatu hari nanti tugas sekolah akan menuntutnya mengetik, membuat presentasi, mencari informasi di internet, bahkan mungkin mengirim tugas melalui email.
Dan ia tidak ingin hanya menjadi penonton ketika layar komputer menyala di hadapannya.
Belajar dari Nol
Melihat keingintahuan itu, saya tidak ingin mengajarinya sekadar bisa menyalakan laptop lalu selesai.
Saya mencoba menyusun sebuah silabus sederhana. Bukan kurikulum resmi, bukan pula rancangan seorang ahli pendidikan. Hanya catatan kecil dari seorang paman yang ingin keponakannya memiliki bekal menghadapi zaman.
Selama beberapa hari saya berada di Kawata, kami mencoba belajar setahap demi setahap.
Hari pertama: mengenal tubuh laptop.
Idho belajar menekan tombol power, mematikan laptop dengan prosedur yang benar, mengenali keyboard dan touchpad, serta memahami fungsi port USB dan charger.
Ia juga belajar hal-hal yang tampak sepele tetapi penting: bagaimana membuka layar dengan benar, membersihkan keyboard, dan mengapa makanan serta minuman sebaiknya tidak diletakkan terlalu dekat dengan laptop.
Jari-jarinya yang selama ini lebih akrab dengan layar sentuh ponsel mulai belajar bergerak di atas touchpad.
Pelan-pelan.
Salah.
Mencoba lagi.
Memasuki Dunia di Balik Layar
Hari kedua, perjalanan kami berlanjut ke dalam sistem operasi.
Ia mulai mengenal desktop dan ikon aplikasi, memahami fungsi menu pencarian, membuat folder, menyalin dan memindahkan file, hingga menghapus dokumen yang tidak diperlukan.
Bagi pengguna komputer yang sudah terbiasa, semua itu mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi seorang anak yang baru mengenal dunia laptop, setiap ikon adalah sesuatu yang perlu dijelajahi. Setiap klik membawa rasa penasaran.
Hari ketiga kami berhadapan dengan keyboard.
Idho belajar mengetik menggunakan aplikasi sederhana. Ia mengenal fungsi Enter, Spacebar, Backspace, Delete, dan Shift. Saya juga mulai mengenalkan posisi jari untuk mengetik dengan sepuluh jari.
Ketukan pertama masih lambat.
Kadang satu huruf yang dicari harus menunggu beberapa detik.
Namun, dari sana ia mulai menemukan ritmenya sendiri.
Satu huruf.
Satu kata.
Satu kalimat.
Internet Bukan Sekadar Tempat Mencari
Setelah mulai mengenal laptop, kami masuk ke dunia yang jauh lebih luas: internet.
Saya mengajarinya membuka browser dan menggunakan mesin pencari untuk menemukan informasi yang dibutuhkan untuk sekolah.
Tetapi ada satu bagian yang saya anggap jauh lebih penting daripada sekadar bisa membuka Google: keamanan dan etika digital.
Saya berkali-kali mengingatkan agar ia tidak sembarangan mengklik tautan yang tidak dikenal, tidak mengunduh file asing, dan tidak mudah memberikan informasi pribadi kepada orang lain.
Ia juga perlu memahami bahwa sopan santun tidak berhenti di depan pintu rumah atau ruang kelas.
Di internet pun, ada orang lain yang harus dihormati.
Sebab menjadi melek teknologi bukan hanya perkara mampu menggunakan perangkat. Lebih jauh dari itu, ia adalah kemampuan untuk menggunakannya secara aman, kritis, dan bertanggung jawab.
Dari Laptop ke Dunia Sekolah
Pada hari-hari berikutnya, pelajaran mulai diarahkan pada kebutuhan sekolah.
Idho belajar mengetik menggunakan pengolah kata seperti Microsoft Word atau Google Docs. Ia mencoba membuat presentasi sederhana melalui PowerPoint atau Google Slides.
Ia juga diperkenalkan pada email: bagaimana membuat, membaca, dan mengirim pesan.
Mungkin bagi orang dewasa semua itu hanyalah pekerjaan rutin.
Tetapi bagi Idho, setiap keterampilan baru adalah satu anak tangga.
Dan ia menaikinya perlahan.
Bukan Soal Seberapa Cepat
Yang paling membuat saya terharu bukan seberapa cepat Idho menguasai laptop.
Justru sebaliknya.
Saya melihat bagaimana ia tetap mencoba setelah salah menekan tombol. Tetap mengulang ketika folder yang dibuatnya terhapus. Tetap bertanya ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang ia bayangkan.
Ia tidak selalu berhasil pada percobaan pertama.
Tetapi ia tidak berhenti.
Di situlah saya melihat wajah lain dari Gen Alpha di kampung.
Mereka mungkin tumbuh dengan fasilitas yang tidak selengkap anak-anak di kota. Mereka mungkin tidak selalu memiliki akses terhadap perangkat terbaru atau ruang belajar digital yang memadai.
Namun rasa ingin tahu mereka tidak kalah.
Keinginan untuk belajar juga tidak lebih kecil.
Yang sering kali berbeda hanyalah kesempatan.
Kesenjangan Itu Bernama Kesempatan
Pengalaman kecil bersama Idho membuat saya berpikir bahwa kesenjangan digital antara kampung dan kota tidak selalu semata-mata persoalan perangkat atau jaringan internet.
Ada kesenjangan lain yang lebih sunyi: siapa yang menemani anak belajar.
Kadang sebuah laptop lama pun bisa menjadi jendela menuju masa depan jika ada seseorang yang bersedia duduk di samping seorang anak, menjelaskan dari awal, mengulang penjelasan yang sama, dan tidak marah ketika kesalahan yang sama kembali terjadi.
Teknologi boleh semakin rumit.
Aplikasi boleh semakin canggih.
Kecerdasan buatan boleh melompat jauh meninggalkan kemampuan manusia dalam banyak hal.
Tetapi di balik semua itu, seorang anak tetap membutuhkan sesuatu yang sangat sederhana: kesempatan untuk mencoba.
Hari ini, Idho mungkin baru belajar menyalakan laptop dan mengetik dengan dua jari.
Tidak apa-apa.
Sebab yang sedang tumbuh sebenarnya bukan hanya kemampuan mengoperasikan komputer.
Ada rasa percaya diri.
Ada keberanian untuk mencoba.
Ada kebiasaan bertanya.
Dan yang paling penting, ada keyakinan bahwa dirinya juga bisa.
Di Kampung Kawata, seorang anak berusia 12 tahun sedang memulai perjalanan kecil menuju dunia digital.
Namanya Idho.
Ia mungkin belum tahu akan menjadi apa kelak.
Tetapi satu hal sudah ia tahu sejak sekarang: dunia teknologi boleh semakin kompleks, tetapi ia tidak mau tertinggal.
Gen Alpha di kampung tidak membutuhkan banyak alasan untuk belajar.
Mereka hanya membutuhkan satu orang yang mau duduk di samping mereka dan berkata:
“Coba lagi. Kamu pasti bisa.”






Tinggalkan Balasan