Sebelum memulai tulisan ini, izinkan saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya saudara kami, Hasim Lumbessy. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.


Kematian Hasim Lumbessy bukan sekadar meninggalkan duka bagi keluarga dan masyarakat Mangoli Utara Timur. Tragedi ini semestinya menggugah kesadaran kita bahwa sebuah musibah sering kali lahir bukan dari satu penyebab tunggal, melainkan dari bertemunya berbagai persoalan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri tanpa pernah dipandang sebagai satu kesatuan.

Di Mangoli, ada tiga persoalan yang tampaknya saling bersinggungan: wabah penyakit pada satwa, perubahan keseimbangan ekosistem, dan lambannya pembangunan infrastruktur dasar. Ketiganya mungkin tampak tidak berkaitan. Namun jika dilihat melalui perspektif ekologi dan kebijakan publik, ketiga faktor tersebut justru dapat membentuk mata rantai risiko yang berujung pada keselamatan manusia.

Beberapa waktu terakhir masyarakat Pulau Mangoli menyaksikan kematian babi dalam jumlah besar yang diduga berkaitan dengan African Swine Fever (ASF) atau demam babi Afrika. Penyakit virus ini dikenal memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi pada babi domestik maupun babi liar, serta telah menyebabkan kerugian ekonomi dan ekologis di berbagai negara, termasuk Indonesia (Food and Agriculture Organization [FAO], 2023).

Bagi masyarakat umum, wabah ini mungkin dipahami sebatas persoalan peternakan. Padahal, dalam ekologi hutan tropis, hilangnya satu spesies dalam jumlah besar hampir selalu menimbulkan efek berantai (ecological cascade). Babi hutan bukan hanya sumber protein bagi masyarakat di sejumlah wilayah, tetapi juga merupakan salah satu mangsa penting bagi predator besar seperti ular piton (Malayopython reticulatus), biawak, hingga buaya di beberapa habitat (Shine et al., 1998).

Ketika populasi babi menurun secara drastis, predator kehilangan salah satu sumber energi utamanya. Dalam kondisi demikian, satwa liar akan melakukan apa yang secara biologis memang harus dilakukan: bertahan hidup. Mereka memperluas daerah jelajah, mencari sumber makanan baru, dan dalam situasi tertentu mulai memasuki ruang-ruang yang sebelumnya didominasi manusia.

Inilah yang dalam ilmu konservasi dikenal sebagai human-wildlife conflict, yakni meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar akibat terganggunya keseimbangan habitat. Fenomena tersebut telah didokumentasikan di berbagai belahan dunia, mulai dari harimau di Asia, beruang di Amerika Utara, hingga gajah di Afrika. Polanya hampir selalu sama: ketika habitat terganggu atau ketersediaan mangsa menurun, intensitas perjumpaan dengan manusia meningkat (Nyhus, 2016).

Apakah tragedi yang menimpa Hasim Lumbessy merupakan akibat langsung dari wabah ASF? Tidak ada bukti ilmiah yang dapat menyatakan demikian saat ini. Namun, mengabaikan kemungkinan adanya hubungan ekologis juga merupakan kekeliruan. Justru di sinilah pentingnya penelitian lapangan. Pemerintah daerah bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), akademisi, dokter hewan, dan ahli ekologi perlu melakukan investigasi ilmiah mengenai perubahan populasi babi hutan, pola jelajah ular piton, serta dinamika satwa liar pascawabah. Kebijakan yang baik selalu berangkat dari data, bukan dugaan semata.

Namun, ekologi hanyalah separuh cerita.

Separuh lainnya adalah soal pembangunan yang belum selesai.

Jalan penghubung Desa Pelita Jaya dan Desa Waisakai hingga kini belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan masyarakat sebagaimana mestinya. Akibatnya, warga masih harus berjalan kaki melintasi jalur setapak yang membelah kawasan hutan, tanpa penerangan yang memadai, bahkan pada malam hingga dini hari.

Kondisi tersebut sesungguhnya menggambarkan kegagalan negara dalam menghadirkan rasa aman bagi warganya. Infrastruktur bukan sekadar urusan beton, aspal, dan anggaran. Infrastruktur adalah instrumen perlindungan. Jalan yang layak bukan hanya mempercepat distribusi barang atau memperlancar roda ekonomi, tetapi juga mengurangi paparan masyarakat terhadap berbagai risiko, mulai dari kecelakaan, tindak kriminal, hingga ancaman satwa liar.

Bayangkan jika jalan Pelita Jaya–Waisakai telah selesai dibangun. Warga tidak perlu lagi berjalan berjam-jam di tengah hutan. Perjalanan yang sebelumnya ditempuh dengan berjalan kaki dapat dilakukan menggunakan kendaraan dalam waktu yang jauh lebih singkat. Risiko bertemu satwa liar pun secara logis akan menurun karena intensitas aktivitas manusia di jalur hutan berkurang.

Di sinilah ironi itu muncul.

Ketika ekosistem sedang mengalami tekanan akibat wabah yang diduga memengaruhi populasi satwa, masyarakat justru masih dipaksa menggunakan jalur yang melewati habitat alami predator karena akses jalan belum tersedia secara memadai. Alam sedang berubah, tetapi pembangunan berjalan lambat. Di tengah dua kondisi tersebut, masyarakat menjadi pihak yang paling rentan.

Perspektif ini selaras dengan pendekatan One Health, yang menegaskan bahwa kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan merupakan satu kesatuan yang saling memengaruhi. Wabah penyakit pada satwa tidak hanya berdampak pada sektor peternakan, tetapi juga dapat mengubah dinamika ekosistem, perilaku satwa liar, hingga tingkat keselamatan manusia (World Health Organization, 2022).

Karena itu, tragedi Hasim Lumbessy semestinya tidak berhenti sebagai berita duka yang perlahan dilupakan. Peristiwa ini harus menjadi alarm bagi pemerintah daerah bahwa pembangunan tidak cukup hanya diukur dari jumlah proyek yang diresmikan atau besarnya serapan anggaran. Ukuran keberhasilan pembangunan yang sesungguhnya adalah sejauh mana negara mampu melindungi keselamatan warganya.

Sudah saatnya pemerintah mengambil langkah nyata.

Pertama, mempercepat penyelesaian jalan penghubung Pelita Jaya–Waisakai sebagai infrastruktur keselamatan, bukan semata proyek pembangunan.

Kedua, melakukan penelitian ilmiah terhadap dampak wabah ASF terhadap populasi babi hutan dan perubahan perilaku satwa liar di Pulau Mangoli agar setiap kebijakan didasarkan pada bukti ilmiah (evidence-based policy).

Ketiga, membangun sistem mitigasi konflik manusia dan satwa liar melalui pemetaan wilayah rawan, patroli terpadu, pemasangan rambu peringatan, edukasi masyarakat, serta mekanisme pelaporan cepat apabila ditemukan aktivitas satwa liar di sekitar permukiman.

Keempat, memperkuat koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, BKSDA, Dinas Kehutanan, Dinas Kesehatan Hewan, aparat keamanan, akademisi, dan masyarakat desa. Konflik manusia dan satwa liar tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Ia membutuhkan pendekatan kolaboratif yang menggabungkan ilmu pengetahuan, tata kelola pemerintahan, dan partisipasi masyarakat.

Pada akhirnya, musibah ini mengingatkan kita bahwa manusia tidak hidup terpisah dari alam. Ketika keseimbangan ekosistem terganggu, dampaknya tidak berhenti di hutan. Ia merambat hingga ke jalan-jalan desa, kebun, bahkan ke rumah-rumah warga. Sebaliknya, ketika pembangunan infrastruktur tertinggal, masyarakat dipaksa berhadapan langsung dengan risiko yang seharusnya dapat diminimalkan oleh negara.

Hasim Lumbessy mungkin telah tiada. Namun, akan menjadi ironi yang jauh lebih besar apabila kepergiannya tidak melahirkan pelajaran apa pun bagi kita. Duka tidak boleh berhenti menjadi belasungkawa; duka harus berubah menjadi kesadaran. Sebab, tugas pemerintah bukan hanya membangun jalan, tetapi juga memastikan setiap warga dapat pulang ke rumah dengan selamat.

Referensi

Food and Agriculture Organization. (2023). African swine fever (ASF): Situation update. https://www.fao.org

Nyhus, P. J. (2016). Human–wildlife conflict and coexistence. Annual Review of Environment and Resources, 41, 143–171. https://doi.org/10.1146/annurev-environ-110615-085634

Ripple, W. J., Estes, J. A., Beschta, R. L., Wilmers, C. C., Ritchie, E. G., Hebblewhite, M., … Schmitz, O. J. (2014). Status and ecological effects of the world’s largest carnivores. Science, 343(6167), 1241484. https://doi.org/10.1126/science.1241484

Shine, R., Harlow, P. S., Keogh, J. S., & Boeadi. (1998). The influence of sex and body size on food habits of a giant tropical snake, the reticulated python (Python reticulatus). Functional Ecology, 12(2), 248–258.

World Health Organization. (2022). One Health. https://www.who.int/health-topics/one-health