SANANA — Rabu siang, 14 Agustus, Gedung Serba Guna Kawata di Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kabupaten Kepulauan Sula, terasa berbeda.
Bangku-bangku tidak disusun berbaris, menghadap satu arah seperti ruang kelas pada umumnya. Ia ditata melingkar. Tak ada jarak antara yang berbicara dan yang mendengarkan. Di dalam lingkaran itu, sejumlah alumni dan mahasiswa duduk bersama—bukan untuk menerima ceramah, tetapi untuk berbagi pengalaman, membaca kembali kampung, dan belajar dari apa yang mereka miliki sendiri.
Hari itu menjadi penanda dimulainya Sekolah Fasilitator Penggerak Kampung Kawata Vol. 1.
Sekilas, kegiatan ini mungkin tampak seperti pelatihan biasa. Namun, ada sesuatu yang hendak dibongkar dari cara pandang lama tentang pemuda dan pembangunan kampung.
Selama bertahun-tahun, pemuda kampung lebih sering ditempatkan sebagai objek pembangunan: menerima program, mengikuti arahan, lalu menunggu perubahan datang dari luar. Suara mereka didengar, tetapi tidak selalu menjadi suara pertama. Bahkan, pengetahuan tentang kampung sendiri kadang justru harus diperkenalkan kembali oleh orang-orang yang datang dari luar.
Sekolah fasilitator ini mencoba membalik keadaan itu.
Pemuda tidak ditempatkan sebagai penonton yang menyaksikan perubahan berlangsung di halaman rumahnya sendiri. Mereka didorong menjadi subjek—orang-orang yang mampu membaca persoalan, menemukan kekuatan, mengorganisasi pengetahuan, dan menggerakkan perubahan dari dalam kampung.
Di tengah keterbatasan fasilitas belajar, para penggagas memilih jalan yang sederhana. Tidak ada kemewahan yang hendak dipamerkan. Sebab, bagi mereka, literasi bukan perkara seremoni atau siapa yang paling banyak berbicara.
Literasi adalah ekosistem.
Ia tumbuh dari percakapan, dari pengalaman yang dipertukarkan, dari kesediaan mendengar, juga dari keberanian untuk mencoba meski belum semuanya sempurna.
Menggali Kembali yang Telah Dimiliki
Hal menarik dari sekolah ini adalah cara peserta diajak melihat kampungnya sendiri.
Kampung tidak diperlakukan sebagai ruang kosong yang harus diisi dengan pengetahuan dari luar. Sebaliknya, peserta diajak menoleh ke belakang, menyusuri kembali ingatan, nilai, dan praktik sosial yang selama ini hidup di tengah masyarakat.
Di sana ada Malom-Kub, Walima, dan Lom Poa Do Hoi.
Ketiganya tidak berhenti sebagai nama atau warisan budaya yang hanya disebut ketika sebuah acara berlangsung. Dalam sekolah ini, nilai-nilai tersebut dibaca sebagai modal sosial—sesuatu yang telah dimiliki kampung dan dapat dikembangkan menjadi kekuatan untuk membangun layanan, mengorganisasi masyarakat, melakukan advokasi, hingga memperkuat komunitas.
Di titik inilah arah pertanyaan berubah.
Bukan lagi, “Pengetahuan apa dari luar yang harus dibawa ke kampung?”
Melainkan:
“Kekuatan apa yang sebenarnya sudah dimiliki kampung, dan bagaimana kekuatan itu dapat digerakkan lebih jauh?”
Pertanyaan sederhana itu membuka pintu yang lebih luas.
Sebab, pembangunan tidak selalu harus dimulai dengan mendatangkan sesuatu yang baru. Kadang ia justru bermula dari keberanian untuk melihat kembali sesuatu yang telah lama ada, tetapi perlahan dilupakan.
Karena itu, praktik dan refleksi menjadi bagian penting dalam proses belajar. Peserta tidak hanya duduk mendengarkan. Mereka diajak mencoba, membaca situasi, mengevaluasi, lalu mencoba kembali.
Belajar tidak berhenti ketika sesi pelatihan selesai. Ia justru dimulai ketika peserta kembali berhadapan dengan kenyataan kampungnya sendiri.
Belajar dalam Lingkaran
Zulvikar Makian, salah satu fasilitator kegiatan, mengatakan Sekolah Fasilitator Penggerak Kampung Kawata menjadi langkah awal untuk membekali pemuda, khususnya mereka yang berlatar belakang mahasiswa, dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap untuk ikut menggerakkan kampung.
“Dengan metode pelatihan yang partisipatif, peserta dapat saling belajar bersama,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di dalamnya terdapat gagasan penting tentang bagaimana pengetahuan seharusnya tumbuh.
Tidak dari atas ke bawah.
Tidak dari satu orang kepada banyak orang.
Melainkan dari perjumpaan.
Dari pengalaman seorang peserta yang mungkin berbeda dengan pengalaman peserta lainnya. Dari cerita tentang kampung yang satu, lalu disambungkan dengan persoalan kampung yang lain. Dari kesalahan yang dibicarakan tanpa rasa malu, kemudian diubah menjadi pelajaran.
Maka, lingkaran bangku di Gedung Serba Guna Kawata bukan sekadar cara menata ruang.
Ia menjadi simbol tentang cara belajar yang ingin dibangun: setara, terbuka, dan saling menghidupkan.
Dari ruang sederhana itu, sebuah gagasan sedang ditanam.
Bahwa kampung tidak selalu membutuhkan orang lain untuk datang membawa jawaban.
Kadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang agar orang-orang di dalamnya dapat kembali bertanya, kembali mendengar, dan kembali percaya pada pengetahuan yang telah tumbuh dari tanah mereka sendiri.
Dan mungkin, dari sanalah perubahan yang lebih panjang bermula.
Dari kampung.
Dari mereka yang tinggal di dalamnya.
Dan dari keberanian untuk belajar kembali dari rumah sendiri.






Tinggalkan Balasan