SANANA – Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Peduli Sula, Maluku Utara, mulai mendorong pengelolaan sumber daya perikanan berbasis masyarakat melalui program pendampingan di lima desa di Kabupaten Kepulauan Sula. Program ini diarahkan untuk memperkuat keterlibatan masyarakat pesisir, khususnya nelayan skala kecil, dalam menjaga kelestarian ekosistem laut sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya perikanan secara berkelanjutan.

Langkah tersebut diawali dengan sosialisasi Program Pengelolaan Perikanan Berbasis Masyarakat di Desa Lelyaba, Kecamatan Mangoli Barat, yang berlangsung di gedung Kantor Desa Lelyaba, Selasa (20/10/2026) pagi.

Kegiatan ini melibatkan pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kelompok nelayan, serta masyarakat setempat. Sosialisasi tersebut bertujuan memperkenalkan rencana program sekaligus menyerap masukan dan membangun dukungan dari berbagai pihak sebelum pelaksanaan pendampingan di tingkat desa.

Direktur LPM Peduli Sula, Ahmad Basahona, mengatakan sosialisasi ini merupakan bagian dari upaya memberikan edukasi kepada masyarakat pesisir mengenai pentingnya pengelolaan sumber daya perikanan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal.

“Kegiatan sosialisasi ini memberikan edukasi kepada warga masyarakat nelayan serta kelompok pembudidaya ikan untuk bersama-sama menjaga, mengelola, dan memanfaatkan sumber daya perairan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ahmad menjelaskan, program tersebut merupakan kerja sama dengan lembaga konservasi laut internasional Blue Ventures Conservation (BVC) yang berbasis di London, Inggris. Melalui dukungan hibah dari lembaga tersebut, LPM Peduli Sula dipercaya menjadi mitra pendamping masyarakat dalam upaya pengelolaan dan pemulihan ekosistem laut.

Dalam pelaksanaannya, LPM Peduli Sula akan melakukan asesmen awal di lima desa sasaran, yakni Desa Pelita, Lelyaba, Pasipa, Johor, dan Falabisahaya.

Menurut Ahmad, pendampingan ini tidak hanya berorientasi pada pelestarian lingkungan laut, tetapi juga mendorong masyarakat agar memiliki pemahaman dan keterlibatan lebih besar dalam menentukan cara pengelolaan sumber daya perikanan di wilayah mereka.

Dengan pendekatan berbasis masyarakat, warga diharapkan tidak sekadar menjadi penerima manfaat, tetapi turut berperan dalam menyusun aturan, menjaga sumber daya perikanan, serta memperoleh manfaat dari pengelolaan yang dilakukan secara bertanggung jawab.

“Dalam program ini, kami berperan sebagai pendamping masyarakat. Pada tahap awal, kami baru melaksanakan sosialisasi di dua desa, yakni Desa Pelita dan Desa Lelyaba,” katanya.

Ahmad menambahkan, program tersebut memiliki empat pilar utama, yaitu pengelolaan perikanan berbasis masyarakat, pengamanan hak, inklusi keuangan, dan ketahanan pangan.

Meski mencakup empat pilar, pelaksanaan program dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta fokus kegiatan yang telah ditetapkan.

Ia menyebutkan, pada tahap awal pelaksanaan menjelang akhir 2026, pengelolaan perikanan berbasis masyarakat menjadi prioritas utama.

“Dari empat pilar yang kami dorong, yang akan kami kerjakan dalam waktu dekat pada akhir tahun 2026 ini adalah pengelolaan perikanan berbasis masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan pelatihan bersama dengan masyarakat

Setelah sosialisasi, LPM Peduli Sula akan melanjutkan pendampingan bersama masyarakat di desa-desa sasaran. Tahapan awal diarahkan untuk memahami kondisi wilayah, kebutuhan nelayan, serta persoalan yang dihadapi masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya perikanan.

Hasil pemetaan tersebut diharapkan menjadi dasar untuk menyesuaikan bentuk pendampingan dengan kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan di masing-masing desa.

Masyarakat Lelyaba Dukung Program

Dukungan terhadap program tersebut disampaikan tokoh masyarakat Desa Lelyaba, Hi. Marwan Tuwajo. Ia mengapresiasi inisiatif LPM Peduli Sula karena dinilai bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat setempat yang sebagian besar menggantungkan mata pencaharian pada sektor perikanan.

Menurut Marwan, Desa Lelyaba dikenal sebagai salah satu desa penghasil ikan di Kabupaten Kepulauan Sula. Karena itu, pengelolaan sumber daya laut secara berkelanjutan dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan mata pencaharian nelayan sekaligus mempertahankan potensi perikanan desa.

Ia menilai keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan perikanan merupakan langkah strategis agar pemanfaatan sumber daya laut tidak hanya berorientasi pada kebutuhan ekonomi saat ini, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan ekosistem untuk generasi mendatang.

Marwan berharap program tersebut dapat dilaksanakan secara konsisten dengan melibatkan pemerintah desa, kelompok nelayan, tokoh masyarakat, dan seluruh pihak terkait.

“Sebagai masyarakat, kami berterima kasih atas program sosialisasi yang ditawarkan. Program ini bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat Lelyaba. Karena itu, kami sangat mendukung agar program ini dapat dilaksanakan,” ungkapnya.

Ia juga berharap seluruh pihak yang terlibat dapat memberikan dukungan sehingga proses pendampingan berjalan lancar dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di desa sasaran.

“Mudah-mudahan para pihak yang terlibat dapat memperkuat dukungan, sehingga program ini dapat berjalan lancar,” tutupnya.

Melalui program tersebut, pengelolaan perikanan berbasis masyarakat diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat peran nelayan dalam menjaga sumber daya laut, meningkatkan kesadaran terhadap kelestarian ekosistem, serta mendorong pengelolaan perikanan yang berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Sula.