SANANA — Transformasi digital terus didorong Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula, Maluku Utara, sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola perguruan tinggi. Salah satunya melalui pengelolaan Beban Kerja Dosen (BKD) berbasis Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi (SISTER).
Penerapan sistem tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan administrasi akademik, tetapi juga menjadi instrumen dalam mendukung pengembangan karier dosen sekaligus meningkatkan mutu dan akuntabilitas kelembagaan.
Komitmen itu ditunjukkan STAI Babussalam Sula melalui keikutsertaan dalam Pelatihan Operator BKD-SISTER Tahun 2026 yang diselenggarakan Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah VIII Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Pelatihan berlangsung selama dua hari, 28–29 Agustus 2026, di Hotel Best Western Plus Makassar Beach. Kegiatan tersebut diikuti para operator BKD dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) di lingkungan Kopertais Wilayah VIII.
Pelatihan difokuskan pada penguatan pemahaman dan keterampilan teknis operator dalam mengelola BKD melalui sistem SISTER, termasuk memastikan proses pelaporan dan dokumentasi aktivitas dosen dapat dilakukan secara tertib dan akurat.
Bagi STAI Babussalam Sula, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda peningkatan kapasitas operator. Lebih jauh, pelatihan ini menjadi bagian dari langkah institusi membangun tata kelola perguruan tinggi yang berbasis data dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi pendidikan tinggi.
Operator BKD-SISTER STAI Babussalam Sula, Ahmad Saladin Kharie, mengatakan pengelolaan BKD melalui SISTER harus dipahami sebagai bagian dari sistem pengembangan profesional dosen, bukan semata-mata kewajiban administratif.
Menurutnya, SISTER memberikan ruang bagi dosen untuk mendokumentasikan berbagai aktivitas akademik secara lebih terintegrasi, mulai dari pendidikan dan pengajaran, penelitian, pengabdian kepada masyarakat hingga kegiatan penunjang.
“Dengan SISTER, dosen tidak lagi terbebani dengan input data yang berulang. Data mengajar yang sudah tersedia di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi dapat terintegrasi, sehingga proses pelaporan BKD menjadi lebih efisien dan akurat,” ujar Ahmad Saladin, Sabtu (29/8/2026).
Ia menilai, semakin tertib data seorang dosen, semakin mudah pula institusi memantau pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dokumentasi aktivitas akademik yang baik juga dapat mendukung berbagai kebutuhan pengembangan karier dosen, termasuk administrasi yang berkaitan dengan angka kredit, kenaikan pangkat, kenaikan jabatan fungsional maupun sertifikasi dosen sesuai ketentuan yang berlaku.
“Jangan sampai dosen memiliki banyak aktivitas akademik, tetapi tidak terdokumentasi dengan baik. Akhirnya ketika dibutuhkan untuk kepentingan pengembangan karier, datanya justru bermasalah. Karena itu, ketertiban sejak awal sangat penting,” jelasnya.
Ahmad Saladin menambahkan, manfaat penerapan SISTER tidak hanya dirasakan oleh dosen secara individual. Bagi perguruan tinggi, sistem tersebut juga menjadi sumber data strategis dalam pengelolaan sumber daya manusia.
Data BKD yang dikelola secara tertib dapat membantu pimpinan melihat distribusi beban kerja dosen, memetakan kebutuhan pengembangan kompetensi, serta menyusun kebijakan pengelolaan sumber daya manusia secara lebih objektif.
“Bagi kampus, data BKD yang rapi di SISTER menjadi salah satu bukti penting dalam aspek sumber daya manusia, terutama ketika institusi menghadapi proses akreditasi. Data ini juga membantu pimpinan memetakan beban kerja dosen dan merancang kebijakan pengembangan SDM yang lebih tepat,” ungkapnya.
Menurut dia, di tengah tuntutan akuntabilitas perguruan tinggi, pengambilan keputusan tidak lagi cukup hanya berdasarkan asumsi. Institusi membutuhkan data yang valid, terstruktur, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, digitalisasi pengelolaan BKD menjadi bagian dari upaya STAI Babussalam Sula membangun budaya kerja akademik yang lebih terukur dan berbasis data.
Ahmad Saladin mengatakan penerapan SISTER di lingkungan PTKIS juga merupakan bagian dari proses penyesuaian tata kelola perguruan tinggi dengan perkembangan sistem pendidikan tinggi nasional.
“Penerapan SISTER merupakan bentuk penyelarasan tata kelola PTKIS dengan sistem pendidikan tinggi nasional. Ini penting untuk meningkatkan kredibilitas institusi di mata mahasiswa, orang tua, masyarakat, dan asesor akreditasi,” katanya.
Menurutnya, perguruan tinggi yang mampu mengelola data secara baik akan memiliki fondasi yang lebih kuat dalam melakukan perencanaan, evaluasi, serta peningkatan mutu.
Hal tersebut menjadi semakin penting bagi perguruan tinggi yang tengah memperkuat kelembagaan dan mempersiapkan diri menghadapi berbagai tuntutan mutu, baik pada tingkat program studi maupun institusi.
Dalam implementasinya, Ahmad Saladin mengakui pengelolaan SISTER membutuhkan operator yang tidak hanya memahami aspek teknis, tetapi juga aktif mengikuti perkembangan kebijakan.
Sebab, sistem digital maupun mekanisme pelaporan dapat mengalami pembaruan sesuai dengan kebijakan dan kebutuhan pengelolaan pendidikan tinggi.
“Kami terus mengikuti sosialisasi, pelatihan, dan rapat koordinasi operator BKD-SISTER agar setiap pembaruan kebijakan dan teknis pelaporan dapat dipahami dan diterapkan dengan benar. Tujuannya agar tidak terjadi keterlambatan maupun kesalahan input yang dapat menghambat proses penilaian kinerja dosen,” tegasnya.
Karena itu, ia berharap peningkatan kapasitas operator juga diikuti dengan kesadaran para dosen untuk memastikan seluruh aktivitas Tri Dharma Perguruan Tinggi tercatat secara benar dan tepat waktu.
“Operator tidak bisa bekerja sendiri. Dosen juga harus aktif memastikan data dan aktivitas akademiknya terdokumentasi. Ini merupakan tanggung jawab bersama,” tambahnya.
STAI Babussalam Sula menempatkan digitalisasi administrasi akademik sebagai salah satu bagian penting dalam penguatan tata kelola kelembagaan.
Melalui penerapan BKD-SISTER, institusi berharap dapat membangun sistem administrasi yang lebih efektif, transparan, akurat, dan akuntabel.
Data yang dikelola dengan baik tidak lagi sekadar menjadi arsip administratif, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai dasar evaluasi kinerja, perencanaan pengembangan sumber daya manusia, pemenuhan kebutuhan akreditasi, hingga peningkatan kualitas pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Keikutsertaan STAI Babussalam Sula dalam Pelatihan Operator BKD-SISTER 2026 sekaligus menunjukkan keseriusan institusi mengikuti perkembangan transformasi digital dalam tata kelola pendidikan tinggi.
Kegiatan tersebut diselenggarakan Kopertais Wilayah VIII Sulawesi, Maluku, dan Papua berdasarkan Surat Undangan Nomor B-143/Un.06/PP.00.9/VIII/2026 tertanggal 11 Agustus 2026.
Ke depan, penguatan kapasitas operator dan dosen akan terus didorong agar implementasi BKD-SISTER tidak berhenti pada pemenuhan administrasi, tetapi benar-benar menjadi instrumen untuk membangun budaya akademik yang produktif, tertib, dan berorientasi pada peningkatan mutu.
“Harapannya, dengan sistem yang tertib, transparan, dan berbasis data, dosen bisa lebih fokus meningkatkan kualitas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Administrasi harus kita kelola dengan baik agar bukan menjadi beban, tetapi justru menjadi instrumen yang membantu dosen dan kampus berkembang,” pungkas Ahmad Saladin.






Tinggalkan Balasan